Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Cara Memotong Kuku yang Dianjurkan


Masihkah mau memotong kuku asal-asalan ???? Tidakkah kita ingin meneladani apa yang diajarkan oleh Habibul Mahbub Rasulullah SAW sampai dengan hal yg terkecil dan remeh sekalipun ????? Bahagiakah diri kita dengan bisa sedikit ITTIBA’ kepada Sunnah Al Musthofa SAW ?????


Menurut Ulama ada 3 tafsiran mengenai cara memotong kuku jari tangan kita, semuanya sepakat diawali dari kuku jari kanan terlebih dahulu :

PENDAPAT PERTAMA, MENURUT IMAM AL GHAZALI :

Dimulai dari jari telunjuk kanan, terus sampe jari kelingking kanan, lalu (berpindah) jari kelingking kiri, terus sampai ibu jari (jempol) kiri, kemudian (pindah lagi) diakhiri dengan ibu jari kanan.

Keterangan :

Gambaran detailnya kurang lebih demikian :

1. Mulai dari jari telunjuk tangan kanan
2. Jari tengah tangan kanan
3. Jari manis tangan kanan
4. Jari kelingking tangan kanan (Tinggalkan Ibu Jari tangan kanan)
5. Jari kelingking tangan kiri
6. Jari manis tangan kiri
7. Jari tengah tangan kiri
8. Jari telunjuk tangan kiri
9. Ibu jari tangan kiri
10. Diakhiri ibu jari (jempol) tangan kanan.

PENDAPAT KEDUA, MENURUT IMAM NAWAWI (Qoul inilah yg Mu’tamad, menurut ket. Dalam Kitab Fathul Mu’in) :

Dimulai dari jari telunjuk kanan, terus sampe jari kelingking, kemudian ibu jari kanan, lalu (berpindah) jari kelingking kiri, terus sampai ibu jari kiri.

Keterangan :

Gambaran detailnya kurang lebih demikian :

1. Mulai dari Jari Telunjuk tangan kanan
2. Jari tengah tangan kanan
3. Jari manis tangan kanan
4. Jari kelingking tangan kanan
5. Ibu jari tangan kanan
6. Jari kelingking tangan kiri
7. Jari manis tangan kiri
8. Jari tengah tangan kiri
9. Jari telunjuk tangan kiri
10. Diakhiri ibu jari (jempol) tangan kiri.

PENDAPAT KETIGA, MENURUT PENDAPAT YANG DISUKAI OLEH IMAM AHMAD BIN HAMBAL :

Pemotongan kuku jari tangan kanan dimulai dengan urutan “KHOWABIS” sedang jari tangan kiri dimulai dengan urutan “AUKHOSAB”

Keterangan :

Urutan “KHOWABIS” adalah sbb :

1. Dimulai dari jari kelingking tangan kanan
2. Jari tengah tangan kanan
3. Ibu jari tangan kanan
4. Jari manis tangan kanan
5. Diakhiri jari telunjuk tangan kanan

Urutan “AUKHOSAB” adalah sbb :

1. Dimulai dari jari Ibu jari tangan kiri
2. jari tengah tangan kiri
3. jari kelingking tangan kiri
4. jari telunjuk tangan kiri
5. Diakhiri jari manis tangan kiri

Keterangan tersebut berdasarkan pada sebuah hadis, sebagaimana ditutur oleh Ibnu Qudamah di dalam Kitab Al Mughniy :

مَنْ قَصَّ أَظْفارَهُ مُخالِفا لَم يَرَ فِي عَيْنَيْهِ رَمَدًا
“Barang siapa memotong kukunya dengan cara selang seling, maka kedua belah matanya tidak akan mengalami sakit....”

Sebagaimana di nadhomkan oleh sebagian ulama :

قَلِّمُوْا أَظْفَارَكُمْ عَلَى السُنّةِ وَاْلاَدَبْ # يُمْناها خَوَابِسْ يَسارُها أَوْخَسَبْ
“Potonglah kuku-kuku kalian menurut aturan sunnah dan adab..... Jari tangan kanan mengikuti methode “Khowabis” sedang jari tangan kiri memakai alur ‘Aukhosab”...”

Semua keterangan diatas adalah berlaku untuk jari-jari kedua tangan. Sedang mengenai jari-jari kaki (semuanya sepakat), pemotongan kuku dimulai dari jari kelingking kaki kanan, terus sampai jari kelingking kiri.

Disunnahkan memotong kuku pada hari Senin, Kamis, dan pagi hari Jum’at (maka setelah sholat Jum'at sudah tidak mendapat kesunnahan lagi), juga disunnahkan mencuci jari-jari tempat pemotongan, setelah pemotongan kuku (menurut sebagian keterangan : karena jika tidak dicuci apabila digunakan untuk menggaruk bisa menyebabkan penyakit)

(At Taqriirot As Sadiidah Fi Masa-il Al Mufiidah Hal. 79, karya Al Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al Kaff, salah seorang murid Al Habib Zein bin Ibrohim bin Smith Al Madinatul Munawwaroh)

SEMOGA BERMANFAAT................ !!!!!

Ahli Surga


Imam Ahmad meriwayatkan dari Muhammad bin Qais bin Ubadah, dia berkata, "Aku sedang berada di masjid. Tiba-tiba datanglah seorang yang di wajahnya ada tanda kekusyukan. Dia shalat dua rakaat secara singkat. Orang-orang berkata, 'Orang ini ahli surga.'

Setelah dia keluar, maka saya mengikutinya sampai di rumahnya, lalu aku ikut masuk kerumahnya. Kami bercakap-cakap, dan setelah akrab aku bertanya, 'Ketika engkau masuk mesjid, orang-orang mengatakan bahwa engkau ahli surga.' Dia menanggapi, 'Mahasuci Allah. Tidak selayaknya seseorang mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya.'

Saya akan bercerita kepadamu mengapa saya demikian. Sesungguhnya aku bermimpi seolah-olah aku berada di taman nan hijau. Ibnu Aun berkata: "Orang itu menceritakan kehijauan dan keluasan taman.'Di tengah-tengah taman ada tiang besi. Bagian bawahnya menancap ke bumi dan bagian atasnya menjulang ke langit. Pada bagian tengahnya ada tali. Tiba-tiba dikatakan kepadaku, 'Naiklah!'
Maka aku menjawab, 'Aku tidak bisa.'
Kemudian datanglah pelayan.

Ibnu Aun berkata, "Pelayan itu seorang pemuda. Pelayan menyingsingkan bajuku dari belakang seraya berkata, 'Naiklah!' Maka akupun naik hingga berhasil memegang tali.

Dia berkata, 'Peganglah tali itu.' Maka aku terbangun dan tali itu benar-benar ada ditanganku. Kemudian aku menemui Rasulullah saw. dan menceritakan kejadian itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, 'Taman itu melambangkan taman Islam, tiang itu melambangkan tiang Islam, dan tali itu adalah tali yang kokoh. Kamu akan senantiasa memeluk Islam hingga mati.'

Hadist ini dikemukakan dalam shahihain. Orang itu adalah Abdullah bin Salam r.a.

Sepuluh Wasiat Allah Untuk Nabi Musa A.S.


Abu al-Laits as-Samarqandi meriwayatkan kepada sanadnya dari Jabir bin Abdillah ra, berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Allah Swt telah memberikan kepada Nabi Musa bin Imran as dalam alwaah 10 bab :

Wahai Musa jangan menyekutukan aku dengan suatu apa pun bahwa aku telah memutuskan bahwa api neraka akan menyambar muka orang-orang musyrikin.

Taatlah kepada-Ku dan kedua orang tuamu nescaya Aku peliharamu dari sebarang bahaya dan akan Aku lanjutkan umurmu dan Aku hidupkan kamu dengan penghidupan yang baik.

Jangan sekali-kali membunuh jiwa yang Aku haramkan kecuali dengan hak nescaya akan menjadi sempit bagimu dunia yang luas dan langit dengan semua penjurunya dan akan kembali engkau dengan murka-Ku ke dalam api neraka.

Jangan sekali-kali sumpah dengan nama-Ku dalam dusta atau durhaka sebab Aku tidak akan membersihkan orang yang tidak mensucikan Aku dan tidak mengagung-agungkan nama-Ku.

Jangan hasad dengki dan irihati terhadap apa yang Aku berikan kepada orang-orang, sebab penghasut itu musuh nikmat-Ku, menolak kehendak-Ku, membenci kepada pembahagian yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku dan sesiapa yang tidak meninggalkan perbuatan tersebut, maka bukan daripada-Ku.

Jangan menjadi saksi terhadap apa yang tidak engkau ketahui dengan benar-benar dan engkau ingati dengan akalmu dan perasaanmu sebab Aku menuntut saksi-saksi itu dengan teliti atas persaksian mereka.

Jangan mencuri dan jangan berzina isteri jiran tetanggamu sebab nescaya Aku tutup wajah-Ku daripadamu dan Aku tutup pintu-pintu langit daripadanya.

Jangan menyembelih korban untuk selain dari-Ku sebab Aku tidak menerima korban kecuali yang disebut nama-Ku dan ikhlas untuk-Ku.

Cintailah terhadap sesama manusia sebagaimana yang engkau suka terhadap dirimu sendiri.

Jadikan hari Sabtu itu hari untuk beribadat kepada-Ku dan hiburkan anak keluargamu. 

Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda lagi, "Sesungguhnya Allah Swt menjadikan hari Sabtu itu hari raya untuk Nabi Musa as dan Allah memilih hari Juma'at sebagai hari raya untukku."

Nabi Tidak Ridha Umatnya Masuk Neraka


Ketika surga dan neraka telah terkunci, dan semua umat manusia telah dimasukkan ke dalam surga dan neraka sesuai dengan amalannya dan mereka telah menikmati ganjaran atau merasakan hukuman atas apa yang mereka kerjakan dalam waktu yang begitu lama, Allah SWT menanyakan kepada Malaikat Jibril, subhanallah sesungguhnya Allah Mahatahu, "Apakah ada umat Muhammad SAW yang masih tertinggal di dalam neraka?"

Maka Malaikat Jibril pun pergi ke neraka Jahanam.
Neraka Jahanam yang begitu gelap tiba-tiba berubah menjadi terang benderang karena kedatangan Jibril.

Para penghuni Jahanam pun bertanya-tanya, siapakah yang datang, mengapa Jahanam tiba-tiba-tiba terang benderang.

Malaikat Jibril pun menjawab bahwa dia adalah Malaikat Jibril, yang diutus oleh Allah SWT untuk mencari apakah ada umat Muhammad yang masih terselib di neraka Jahanam.
Tiba-tiba sekelompok orang berteriak, "Sampaikan salam kami kepada Rasulullah SAW, beri tahukan keadaan kami di tempat ini kepada beliau."

Jibril pun keluar dari neraka Jahanam dan pergi ke surga untuk memberitahukan hal itu kepada Rasulullah.

Rasulullah begitu bersedih mendengar bahwa masih ada umatnya yang tertinggal di dalam neraka dalam waktu yang sudah begitu lama. Beliau tidak ridha ada umatnya yang masih tertinggal di neraka walau dosanya sepenuh bumi.

Rasulullah SAW pun bergegas hendak pergi neraka.
Tapi di perjalanan beliau terhadang oleh garis batas Malaikat Israfil. Tidak ada seorang pun boleh melintasi garis itu kalau tidak seizin Allah SWT.

Rasulullah SAW pun mengadu kepada Allah SWT, dan akhirnya beliau diizinkan. Tapi sesudah itu Allah SWT mengingatkan Rasulullah bahwa umat itu telah meremehkan beliau. "Ya Allah, izinkan aku memberi syafa'at kepada mereka itu walau mereka punya hanya punya iman sebesar zarrah."

Sesampainya Rasulullah di neraka Jahanam, padamlah api neraka yang begitu dahsyat itu.
Penduduk Jahanam pun berucap, "Apa yang terjadi, mengapa api Jahanam ini tiba-tiba padam? Siapakah yang datang lagi?"

Rasulullah SAW menjawab, "Aku Muhammad SAW yang datang, siapa di antara kalian yang jadi umatku dan punya iman sebesar zarrah, aku datang untuk mengeluarkannya."

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada umatnya, beliau akan memperjuangkannya sampai di hadapan Allah SWT. Lalu bagaimana kecintaan kita sebagai umat Rasulullah SAW kepada pribadi yang begitu agung itu?

Bidadari Surga untuk Umar bin Khaththab

Umar r.a. adalah salah satu dari sahabat Rasulullah s.a.w. yang mempunyai keistimewaan-keistimewaaan yang membedakannya dari shahabat-shahabat lain. Semenjak ia memeluk Islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani sholat dan thawaf dika'abah secara terang-terangan.Umar adalah manusia biasa yang punya kualitas seorang Nabi.


Hal tersebut berdasarkan statment Nabi s.a.w ;" Kalau seandainya ada Nabi setelahku tentulah dia Umar orangnya." Akan tetapi pintu kenabian telah tertutup, maka jadilah Umar tetap Umar bin Khathab yang bukan seorang Nabi tetapi seorang tokoh islam yang telah mengukir sejarah dan mewarnai dunia dengan langkah-langkahnya yang cerdas dan briliant.


Umar r.a. adalah seorang yang wara, ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah s.a.w. , "Wahai Rasulullah s.a.w. apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya".Rasulullah s.a.w. menjawab, "Sudah..."!.


Umar r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah s.w.t. Karena kesungguhannya inilah maka banyak ayat di Al-Quran yang diturunkan Allah s.w.t. bersesuaian dengan kehendak yang ada pada hatinya, seperti pada peristiwa pengharaman khamr, ayat mengenai hijab, pengambilan maqom Ibrahim sebagai tempat shalat dan beberapa ayat Al-Quran lainnya.


Rasulullah s.a.w. seringkali bercerita tentang surga dan neraka kepada para shahabat. Bilamana beliau bercerita tentang surga perasan rindu dan harapan besar memenuhi hati mereka agar mereka kelak menjadi penghuninya. Tetapi bilamana beliau bercerita tentang neraka mereka seakan-akan telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri sehingga ketakutan dan kecemasan melanda mereka sehingga sangat takut dengan semua pelanggaran dosa, sekecil apapun itu.


Ketika Rasulullah s.a.w. dimi'rajkan menghadap Allah s.w.t. untuk menerima perintah shalat, beliau sempat diperlihatkan taman-taman surga yang indah menawan. Rasulullah s.a.w. melihat ada sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu. Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Jibril a.s., "Wahai Jibril, bidadari siapakah itu"?


Malaikat Jibril a.s. menjawab, "Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu Umar r.a.". Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu. Karena sahabatmu itu selalu memenuhi kehendak Allah s.w.t. maka saat itu juga Allah s.w.t. menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya"

Kecerdikan Abu Ja'far Al-Manshur



Suatu ketika Abu Ja'far, 'Abdullah bin Manshur, seorang khalifah, sedang duduk-duduk di salah satu kubah kota al-Manshur di 'Iraq. Tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki yang sedang sedih dan bolak-balik ke sana- kemari di sepanjang jalan. Lalu dia mengirimkan utusan untuk menemuinya dan menanyakan kondisinya. Maka orang tersebut menceritakan bahwa pernah suatu hari dia pergi berbisnis dan mendapatkan keuntungan yang besar sekali.

Setelah itu, dia kembali membawa hasil keuntungan tersebut kepada sang isteri dan menyerahkan semua uang dinar kepadanya. Namun kemudian, kisahya, isterinya tersebut mengatakan kepadanya bahwa semua uang tersebut telah dicuri orang dari rumah, padahal setelah dia meneliti, tidak ada satupun bekas lobang atau sesuatu yang terbongkar di rumahnya. Lantas berkatalah al-Manshur kepadanya, "Sejak kapan kamu menikah dengannya?" "Setahun yang lalu." Jawabnya "Saat kamu nikahi, dia masih perawan atau sudah janda?", tanyanya lagi "Sudah janda." Jawabnya "Masih muda atau sudah berumur?." Tanya al-Manshur lagi "Masih muda." Jawabnya pula Tak berapa lama kemudian, al-Manshur mengambil sebuah botol berisi parfum yang demikian semerbak aromanya seraya berkata kepada orang tersebut, "Pakailah ini, pasti akan hilang semua kegelisahanmu." Lalu orang itu mengambilnya dan membawanya pulang.

Setelah orang tersebut berlalu, al-Manshur berkata kepada para pengawal pilihannya, "Duduklah kalian di dekat pintu-pintu masuk kota ini. Siapa saja yang melintasi kalian dan tercium dari tubuhnya semerbak aroma parfum tadi, maka bawalah dia kemari.!!" Sementara orang tadi sudah sampai di rumahnya dan segera menyerahkan parfum tersebut kepada sang isteri sembari berkata, "Ini ada parfum bagus, hadiah dari Amirul Mukminin!." Tatkala menciumnya, sang isteri ini demikian takjub dan terpikat dengannya, lalu sertamerta dia membawa parfum tersebut kepada seorang laki-laki, kekasih gelap yang dia cintai. Kepada orang inilah, dia menyerahkan semua uang dinar yang hilang itu. si perempuan ini berkata kepadanya, "Pakailah parfum yang bagus ini!." Tanpa rasa curiga dan pikir panjang lagi, kekasih gelapnya ini langsung memakainya, dan pergi melintasi sebagian pintu kota. Akhirnya, dari tubuhnya tersebut terciumlah semerbak aroma parfum sang khalifah itu. Karenanya, diapun kemudian diciduk oleh para pengawal istana dan dibawa menghadap al-Manshur.

Setibanya di istana, al-Manshur bertanya kepadanya, "Dari mana kamu dapatkan parfum ini?." Ternyata orang ini tidak dapat bersikap tenang dan terbata-bata di dalam menjawabnya. Melihat gelagat seperti ini, maka al-Manshur langsung menyerahkannya kepada polisi sembari memberikan titah, "Jika dia mau menghadirkan sekian dan sekian dinar yang dicurinya, maka ambillah darinya. Bila dia tidak mau, maka cambuklah dia seribu kali cambukan!!!." Tak lama kemudian, pakaiannya dilucuti untuk dicambuk sembari diancam, hingga akhirnya dia mengaku dan berjanji akan mengembalikan uang dinar yang dicurinya itu. Kemudian dia menghadirkan uang tersebut seperti sediakala, tidak kurang sepeserpun.

Setelah itu, al-Manshur diberitahu perihal tersebut, lantas si empunya uang dinar tersebut dipanggil lagi untuk menghadap. Ketika dia sudah datang, al-Manshur berkata kepadanya, "Bagaimana pendapatmu, bila aku berhasil mengembalikan semua uangmu yang hilang, apakah kamu setuju aku yang akan menjatuhkan vonis terhadap isterimu?." "Baiklah, wahai Amirul Mukminin." Katanya "Ini semua uang dinarmu tersebut dan aku juga telah menceraikan isterimu itu darimu.!" Kata Amirul Mukminin, al-Manshur. Setelah itu, sang khalifah yang cerdik ini mengisahkan kepada orang tersebut kronologis ceritanya.

Ummu Mihjan, Berjihad dengan Membersihkan Masjid


Merasa bahwa tenaganya sebagai wanita tidak sebesar tenaga pria, Ummu Mihjan tidak mau ketinggalan dalam berjihad menegakkan agama Islam. Apalagi, kala itu, usianya sudah terbilang lanjut. Maka ia memilih membersihkan masjid, suatu tugas yang tampak ringan namun sebenarnya sangat vital peranannya.

Pada suatu waktu, ketika akan shalat Subuh, Rasulullah SAW merasa ada yang hilang dari lingkungan masjid. Ummu Mihjan, wanita tua yang setiap had selalu membersihkan Masjid Nabawi.

"Di mana Ummu Mihjan?" bertanya Nabi kepada para sahabat yang pagi itu shalat Subuh bersama beliau.
"Kami telah memakamkan dia, tadi malam," jawab mereka.
"Mengapa aku tidak diberi kabar?" bertanya lagi Nabi.
"Sebetulnya kami ingin memberitahukan. Namun ketika kami sampai ke rumah Rasulullah, Rasulullah sudah tidur, kami tidak berani mengganggu tidur Rasulullah," jawab mereka. "Maka jenazah itu kami bawa ke Baqi dan kami menguburnya di sana."
"Masya Allah.... Kalau begitu, bawa aku ke makamnya," kata Rasulullah.

Segera para sahabat mengantar Rasulullah menuju makam Ummu Mihjan.
Setiba di sana, beliau memimpin shalat berjama'ah yang diikuti para sahabat, dengan takbir empat kali.

"Semoga Allah mencurahkan rahmatNya kepada Ummu Mihjan, seorang wanita tua yang miskin, lemah, namun selalu berusaha sekuat tenaga mempersembahkan yang terbaik bagi agama Islam," begitu doa Rasulullah.

Lalu beliau menjelaskan bahwa kuburan itu penuh dengan kegelapan, tapi Allah SWT akan menerangi kuburan itu karena doa Rasulullah.

Dengan Penuh Kesadaran

Ummu Mihjan adalah penduduk Madinah yang berkulit hitam yang selalu mendapat perhatian Rasulullah karena sudah tua dan lemah. Sebuah kebiasaan Rasulullah adalah mengunjungi orang-orang miskin, menanyakan keadaan mereka, dan memberi makan. Di antara mereka reka itulah wanita tua yang biasa dipanggil dengan nama "Ummu Mihjan" itu.

la adalah seorang muslimah yang sangat menyadari kewajibannya terhadap agamanya. Walau ia seorang perempuan tua renta, ia tidak ingin keberadaannya itu menjadi beban masyarakat. la tidak ingin menanam sifat pesimistis dan putus asa dalam dirinya. la sadar, putus asa tidak semestinya bersarang dalam diri umat Islam.

Berbekal semua itulah, ia mewujudkan kesadarannya itu dengan menjaga kebersihan tempat beribadah kaum muslimin. Maka dengan ringan tangan, setiap had ia membersihkan lingkungan Masjid Nabawi. Menyapu, membuang sampah dan kotoran yang berserakan di masjid.

Pada masa Rasulullah, masjid, selain digunakan sebagai tempat shalat lima waktu, juga merupakan tempat berkumpulnya jama'ah, untuk berdiskusi dan menyambung tali silaturahim.

Sehingga masjid, bagi umat Islam, layaknya tempat pendidikan dan pusat aktivitas keumatan.
Ummu Mihjan tidak merasa asing dan rendah diri dengan apa yang dikerjakannya. Sebab ia menyadari, itu adalah upaya maksimal yang dapat dilakukannya. Inilah jihadnya, upaya sungguh-sungguhnya memberikan yang terbaik kepada agama yang dipeluknya.

Dengan kebersihan yang dihadirkannya, Rasulullah SAW dan para sahabat betah berlama-lama di masjid, baik untuk beribadah maupun berdiskusi, yang secara rutin dilakukan di masjid itu.

Salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini: jangan sekali-kali menganggap remeh suatu kebaikan, sekecil apa pun kebaikan itu.

Mengapa Disebut Hari Tarwiyah?

Sebagian orang bertanya-tanya, mengapa tanggal 8 Dzulhijjah disebut dengan istilah hari Tarwiyah, dan puasa pada hari itu disebut puasa Tarwiyah?

Untuk memahami hal itu, ada baiknya kita ketahui dulu arti kata “tarwiyyah” (تروية) itu sendiri. Dalam bahasa Arab, “tarwiyyah”  berasal dari fi’il rowa-yarwi (روى) yang memiliki sejumlah arti, di antaranya (1). menceritakan, meriwayatkan, mengisahkan, menarasikan; (2). memancarkan, melewatkan, mengantarkan; (3). mengairi, memberi minum. 

Dalam kitab Al-Mughni (3/249), Imam Ibnu Qudamah menjelaskan apa sebab dinamakan hari ke-8 bulan Dzulhijjah itu disebut hari Tarwiyyah. Setidaknya, menurut beliau, ada dua alasannya: 

Pertama:
Pada hari ke-8 itu para haji setelah berihrom, mereka menuju Mina untuk bermalam yang keesokan harinya mereka menuju Arafah. Nah. ketika di Mina itu para haji (seperti yang dikatakan Ibnu Qudamah) menyiapkan air sebagai bekal untuk berwukuf di padang Arafah keesokan harinya. Menyiapkan air itu diistilahkan dengan Yatarawwauna (يتروون). Karena inilah hari ke-8 itu dinamakan hari Tarwiyyah. Karena kata Yatarowwauna (يتروون) itu mempunyai asal kata yang sama dengan Tarwiyyah.

Kedua:
Pada malam hari Tarwiyah itu Nabi Ibrahim as mendapatkan mimpi pertama kali dari Allah untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail as. Ketika mendapat mimpi itu, diriwayatkan bahwa beliau as “bertanya-tanya” kepada dirinya apakah itu mimpi dari Allah atau dari setan? “Bertanya-tanya” itu diistilahkan dengan bahasa “Yurawwi” (يروي) dan itulah alasannya mengapa dinamakan hari itu sebagai hari Tarwiyyah.


Dan ketika mimpi itu datang untuk kedua kalinya di malam hari Arafah, Nabi Ibrahim akhirnya yakin kalau khabar itu berasal dari Allah swt. Dan yakin berarti adanya pengetahuan, pengetahuan dalam bahasa Arab disebut dengan kata “Arafa” (عرف). Karena itulah hari ke-9 dinamakan hari Arofah (عرفة).


Wallahu A’lam

Cerdas Menghisab Diri

Dikisahkan, ketika melakukan pemantauan terhadap keadaan rakyatnya, Khalifah Abu Bakar RA dengan ditemani oleh beberapa sahabat memasuki lahan pertanian seseorang dari golongan Anshar. Ketika berada di tengah lahan pertanian itu, Abu Bakar melihat seekor burung terbang dari satu pohon kurma ke pohon kurma lainnya dan dari satu pohon ke pohon lainnya.

Ia pun duduk dan menangis. Para sahabat pun bertanya kepadanya, ''Wahai khalifah, apa gerangan yang terjadi pada dirimu?'' Abu Bakar menjawab, ''Aku menangis karena burung itu. Ia terbang dengan enaknya dari satu pohon ke pohon lainnya, lalu datang ke sumber air dan hinggap di pohon, kemudian mati tanpa ada hisab dan tanpa ada azab. Aduhai, sekiranya aku menjadi burung.''

Penghisaban atas semua amal perbuatan adalah hal yang pasti bagi setiap manusia. Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya menegaskan bahwa hari penghitungan (yaum al-hisab) adalah haqq. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindar dari penghisaban di akhirat kelak. Allah berfirman, ''Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.'' (QS 88: 25-26).

Ketika hari penghisaban tiba, tidak ada lagi saat untuk beramal. Karena itu, setiap manusia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi hari penghisaban dengan memperbanyak amal di dunia. Al-Imam Ali bin Abu Thalib berkata, ''Dunia itu selalu bergerak menjauh dari kehidupan manusia sedangkan akhirat selalu bergerak mendekatinya. Masing-masing dari keduanya mempunyai budak yang setia kepadanya. Maka, jadilah kamu sekalian sebagai budak akhirat dan janganlah kamu sekalian menjadi budak dunia. Sesungguhnya di dunia inilah tempat beramal dan tidak ada penghisaban sedangkan di akhirat nanti adalah saat penghisaban dan bukan tempat beramal.''

Amal yang akan menolong manusia di saat penghisaban nanti adalah amal saleh yang dilandasi dengan niat suci untuk mendapatkan ridha Allah semata. Karena itu, setiap manusia harus pandai melakukan evaluasi terhadap amal yang diperbuatnya di dunia.

Rasulullah SAW bersabda, ''Orang yang cerdas adalah orang yang pandai menghisab dirinya di dunia dan beramal untuk kehidupan setelah mati sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya suka berharap kepada Allah tanpa melakukan apa-apa.'' (HR Tirmidzi).

Pernyataan senada ditegaskan Umar bin Khattab RA, ''Hisablah diri kamu sekalian sebelum dihisab oleh Allah. Dan berhias dirilah (dengan amal) untuk menghadapi ujian terbesar. Sesungguhnya, penghisaban di hari kiamat itu hanya akan terasa ringan bagi orang yang terbiasa menghisab dirinya di dunia.''

Kebiasaan menghisab diri adalah bukti ketakwaan seorang Mukmin. Dengan kebiasaan itu, semoga kita termasuk golongan yang ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya, ''Adapun orang yang diberikan kitab (catatan) amalnya dari sebelah kanannya, maka ia akan dihisab dengan penghisaban yang mudah.'' (QS 84: 7-8).

Antara Ridha dan Pasrah

Ridha berasal dari kata radhiya-yardha yang berarti menerima suatu perkara dengan lapang dada tanpa merasa kecewa ataupun tertekan. Sedangkan menurut istilah, ridha berkaitan dengan perkara keimanan yang terbagi menjadi dua macam. Yaitu, ridha Allah kepada hamba-Nya dan ridha hamba kepada Allah (Al-Mausu'ah Al-Islamiyyah Al-'Ammah: 698). Ini sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firman-Nya, ''Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.'' (QS 98: 8).

Ridha Allah kepada hamba-Nya adalah berupa tambahan kenikmatan, pahala, dan ditinggikan derajat kemuliaannya. Sedangkan ridha seorang hamba kepada Allah mempunyai arti menerima dengan sepenuh hati aturan dan ketetapan Allah. Menerima aturan Allah ialah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun menerima ketetapannya adalah dengan cara bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika ditimpa musibah.

Dari definisi ridha tersebut terkandung isyarat bahwa ridha bukan berarti menerima begitu saja segala hal yang menimpa kita tanpa ada usaha sedikit pun untuk mengubahnya. Ridha tidak sama dengan pasrah. Ketika sesuatu yang tidak diinginkan datang menimpa, kita dituntut untuk ridha. Dalam artian kita meyakini bahwa apa yang telah menimpa kita itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan, namun kita tetap dituntut untuk berusaha. Allah berfirman, ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).

Hal ini berarti ridha menuntut adanya usaha aktif. Berbeda dengan sikap pasrah yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Walaupun di dalam ridha terdapat makna yang hampir sama dengan pasrah yaitu menerima dengan lapang dada suatu perkara, namun di sana dituntut adanya usaha untuk mencapai suatu target yang diinginkan atau mengubah kondisi yang ada sekiranya itu perkara yang pahit. Karena ridha terhadap aturan Allah seperti perintah mengeluarkan zakat, misalnya, bukan berarti hanya mengakui itu adalah aturan Allah melainkan disertai dengan usaha untuk menunaikannya.

Begitu juga ridha terhadap takdir Allah yang buruk seperti sakit adalah dengan berusaha mencari takdir Allah yang lain, yaitu berobat. Seperti yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathab ketika ia lari mencari tempat berteduh dari hujan deras yang turun ketika itu. Ia ditanya, ''Mengapa engkau lari dari takdir Allah, wahai Umar?'' Umar menjawab, ''Saya lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain.''

Dengan demikian, tampaklah perbedaan antara makna ridha dan pasrah, yang kebanyakan orang belum mengetahuinya. Dan itu bisa mengakibatkan salah persepsi maupun aplikasi terhadap makna ayat-ayat yang memerintahkan untuk bersikap ridha terhadap segala yang Allah tetapkan. Dengan kata lain pasrah akan melahirkan sikap fatalisme. Sedangkan ridha justru mengajak orang untuk optimistis.

Akhlak Rasulullah Saw

Gerak-gerik seseorang mencerminkan ketajaman akal dan kejernihan hatinya. Kita bisa menilai keadaan seseorang melalui tingkah laku dan perangainya. Lalu, bagaimana tingkah laku dan perangai Rasulullah SAW yang hari-hari ini kelahirannya kita peringati?

Dengarlah komentar Aisyah, istri tercinta dan sekaligus orang yang paling mengenal akhlak Nabi Muhammad SAW. Katanya, ''Rasulullah SAW bukan orang yang suka berkata keji, bukan orang yang buruk perangainya, dan bukan orang yang suka berkeliaran di pasar. Bukan pula orang yang membalas kejelekan (kejahatan) dengan kejelekan, akan tetapi orang yang suka memaafkan dan melupakan kesalahan (orang lain).'' (HR Ahmad).

Husain bin Ali, cucu Rasulullah, menceritakan bagaimana keagungan kakeknya itu dalam sebuah riwayat: ''Aku bertanya kepada ayah (Ali bin Abi Thalib) tentang bagaimana Rasulullah di tengah-tengah sahabatnya. ''Ayah berkata, 'Rasulullah selalu menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa. Beliau meninggalkan tiga hal yaitu riya, boros, dan sesuatu yang tidak berguna.

'Rasulullah juga tidak pernah mencaci seseorang dan menegur karena kesalahannya, tidak mencari kesalahan orang, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat dan berpahala. Kalau beliau berbicara, maka yang lain diam menunduk seperti ada burung di atas kepalanya, tidak pernah disela atau dipotong pembicaraannya, membiarkan orang menyelesaikan pembicaraannya, tertawa bersama mereka yang tertawa, heran bersama orang yang heran, rajin dan sabar menghadapi orang asing yang tidak sopan, segera memberi apa-apa yang diperlukan orang yang tertimpa kesusahan, tidak menerima pujian kecuali dari yang pernah dipuji olehnya'.'' (HR Tirmidzi).

Di antara sekian banyak sifat-sifat yang disebutkan di atas, Rasulullah SAW ternyata juga seorang yang pemalu. Malu dalam hal yang pantas untuk malu, tetapi tegas dalam hal yang menyangkut akhlak dan kebenaran. Sampai-sampai sahabat beliau Abu Said Al-Khurdi mengatakan, ''Rasulullah lebih pemalu dari seorang perawan dalam pingitan. Bila beliau melihat sesuatu yang tidak disukai kami tahu dari raut wajahnya.'' (HR Bukhari).

Dari sekian keagungan akhlak yang dimiliki Rasulullah SAW, apabila salah satunya bisa kita ikuti dan diteladani, niscaya akan menjadi investasi kebaikan yang tak akan pernah mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan pula. Apalagi bila kita bisa mengikuti semua akhlak dan perilaku beliau. Maka, sudah sepantasnya bagi orang yang mengaku sebagai umat Rasulullah SAW untuk mencontoh akhlaknya yang sangat mulia. Apalagi, di bulan Rabi'ul Awal ini yang merupakan bulan kelahiran Muhammad SAW, sangat pas apabila kita kembali kepada akhlak beliau sehingga kita menjadi manusia yang membawa rahmat bagi alam semesta. Sabda Rasulullah SAW, ''Tidaklah saya diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak.'' (HR Muslim).

Akibat Mengambil Hak Milik Orang Lain

Pada zaman dahulu kira-kira pada abad ke-19. ada seorang Raja yang sangat kaya raya dan mempunyai rakyat yang cukup makmur, damai dan tentram.

Di suatu hari Raja ingin sekali jalan-jalan guna mengontrol atau mengelilingi kota sekaligus melihat rakyat yang hidupnya penuh dengan kedamaian. Di tengah perjalanan sang Raja bertemu dengan seorang Penjual beras yang terkenal dengan beras sangat bagus dan enak apabila di makan.

Di perdagangan ini banyak orang yang akan membeli beras ini, karena dengan kepulenan dan keenakan beras ini apabila dimasak atau dijadikan nasi, sehingga harganyapun sangat mahal. Sang Raja malah ingin memborong semua beras ini padahal yang akan membeli beras ini adalah banyak. Inilah sifat tercela yang dimiliki sang Raja yaitu, sifat serakah.

Singkat cerita, sang Raja pulang dengan membawa beras itu. Dan Raja menyuruh pada pembantunya supaya memasak beras itu supaya jadi nasi, kebetulan sang Raja pun sangat lapar, karena habis berkeliling kota yang di kuasainya pada saat itu.

Nasipun sudah siap di hidangkan, kemudia sang Raja makan bersama perdana menteri istana kerajaan. Namun, yang lebih menganehkan adalah, sebelum sang Raja makan nasi itu, sang Raja mengalami ke ganjalan dalam tenggorokannya akibat nasi yang berhenti di tenggorokan sang Raja, akhirnya sang raja tidak bisa makan dan minum. Karena musibah inilah sang Raja jatuh sakit.

Akibat sakit ini sang Raja memanggil semua tabib istana. Namun semua tabib istana itu tidak dapat menyembuhkan sang Raja, dan Raja pun kebingungan. Sang raja memerintahkan supaya memanggil seorang Ustadz yang bisa di bilang terkenal.

Setiba di istana sang Ustadz berkata pada sang Raja, "wahai Raja apakah engkau membutuhkanku?".

Jawab sang raja, "betul aku membutuhkanmu, dan apakah kamu bisa menyembuhkan penyakitku ini." kata sang raja seolah-olah meminta tolong sama sang Ustadz.

Ustadz berkata, "saya bisa menyembuhkan sang Raja. Namun sang Raja harus pergi ke Negara Mesir dan cari disana sebuah hotel bintang sepuluh. Lalu sang Raja masuklah ke kamar No. 10, apabila nanti sang Raja pergi kesana"!!!!!..

Sang Raja pun pergilah ke Negara Mesir dan menuju hotel yang dimaksudkan sang Ustadz. Dan Raja bertanya-tanya mengenai hotel berbintang sepuluh itu, pada penduduk atau orang-orang Mesir. Akhirnya sang Raja menemukan hotel yang berbintang sepuluh tersebut.

Sesingkatnya setelah sang raja menemukan hotel tersebut, sang Raja mencari Kamar No. 10, Ustadz pun masuk ke dalam kamar tersebut. Namun aneh ternyata yang di temukan sang Raja di Kamar tersebut adalah seorang yang sedang tidur lelap. Tiba-tiba sang Raja bersin di depan orang yang tidur itu. Karena bersin inilah sang Raja dapat mengeluarkan nasi yang mengganjal tenggorokannya.

Setelah sembuh dari penyakit ini sang Raja ingin sekali bertemu dengan Ustadz yang telah menyembuhkan Raja tersebut. Dengan penuh keheranan sang Raja berkata pada Ustadz: "Ustadz apa yang menyebabkan saya menderita penyakit semacam ini?". Lalu sang Ustadz menjawab pertanyaan sang Raja, "Yang menyebabkan Nasi mengganjal di tenggorokan Raja itu adalah, karena Nasi itu sebenarnya adalah hak milik orang yang tidur di hotel No. 10 itu. Oleh sebab itu janganlah Raja sekali-kali lagi mengambil hak milik orang lain. Dan jangan pula memiliki sifat serakah."

Mulai pada saat itu juga sang Raja menjadi dermawan dan penuh perhatian pada rakyat-rakyat kecil. Dan membuat suatu sekolah yang gratis. Serta mendirikan sebuah panti asuhan anak-anak yatim piatu.

Muraqabatullah

Alkisah, tersebutlah seorang guru yang tinggal bersama tiga orang muridnya. Namun, walaupun ketiga muridnya itu belajar kepadanya, si guru memberikan perhatian lebih kepada salah seorang dari tiga muridnya. Perlakuan guru itu, tentu saja menimbulkan pertanyaan di dalam hati dua orang murid lainnya. Akhirnya, mereka berdua mendatangi guru mereka dan bertanya, "Wahai Guru, mengapa engkau memberikan perhatian lebih kepadanya dibandingkan perhatian guru kepada kami."

Protes dari dua orang muridnya ini ditanggapi oleh si guru dengan memanggil ketiga muridnya kemudian memberikan seekor burung dan sebilah pisau kepada ketiganya, lalu berkata, "Wahai murid-muridku, sembelihlah burung itu dengan sebilah pisau yang telah aku berikan kepada kalian pada tempat yang sangat tersembunyi sehingga tidak ada yang melihat perbuatan kalian."

Ketiga murid itu pun berpencar mencari tempat yang sesuai dengan petunjuk si guru untuk menyembelih burung itu. Setelah itu, ketiganya kembali mendatangi si guru untuk melaporkan tugas yang telah dilaksanakan. Di hadapan si guru, murid pertama berkata, "Aku telah berhasil melaksanakan perintah dan aku telah menyembelih burung itu di tengah hutan dan tidak ada yang melihat perbuatanku." Sambil memperlihatkan burung yang telah disembelihnya.

Lalu murid kedua melaporkan, "Aku juga telah berhasil melaksanakan tugas dengan menyembelih burung itu di puncak gunung dan tidak ada yang melihat perbuatanku." Ia pun memperlihatkan burung yang telah disembelihnya. Tetapi, tidak demikian dengan murid ketiga. Ia belum menyembelih burung itu.

Di hadapan guru dan kedua temannya, ia berkata, "Aku tidak bisa melaksanakan perintah guru, sebab di manapun aku berada, walaupun orang lain tidak melihat perbuatanku, tapi Allah senantiasa melihatnya." Kemudian si guru pun berkata kepada kedua muridnya yang melakukan protes tadi, "Sikap itulah yang membuatku lebih sayang dan lebih memperhatikan dia daripada kalian berdua."

Sikap yang ditunjukkan oleh murid kesayangan si guru seperti pada kisah di atas disebut dengan muraqabatullah. Berasal dari kata raaqaba-yuraaqibu yang berarti mengawasi, mengamati, dan mengawal. Dengan demikian, muraqabatullah berarti sikap seseorang yang selalu merasa bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi dan mengamati setiap tingkah lakunya, di manapun dan kapanpun.

Muraqabatullah lahir dari keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui semua perbuatan manusia baik yang dilakukan secara sembunyi maupun terang-terangan. Tidak ada perbuatan manusia sedikit pun yang luput dari pengawasan-Nya. Allah berfirman, "Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS 2: 284).

Muraqabatullah hendaknya menjadi sikap yang tertanam dalam jiwa setiap mukmin. Jika demikian, maka segala bentuk kejahatan, kemungkaran, dan kebatilan baik yang bersifat vertikal maupun horizontal tidak akan terjadi lagi. Muraqabatullah akan membawa setiap perbuatan kita senantiasa berorientasikan kebajikan.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog Pribadi Abiza el Rinaldi - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger